Tuesday, June 09, 2009

Twilight Phenomenom


Sungguh ga bisa dibayangkan betapa pengaruh sebuah serial novel dengan tumpahan emosi manusia yang menggelitik dipadukan dengan film sebagai sarana visualisasi dari novel tersebut - dapat membuat manusia menjadi gila! Gila disini dalam pengertian melupakan segala hal-hal normal dan wajar yang sekiranya dilakukan oleh makhluk sosial.

Fenomena novel Twilight serial dipadu dengan visualisasi layar lebar-nya, membuat sebagian kecil makhluk bumi goyah dan berpaling dari kehidupan normal mereka. Saya katakan sebagian kecil karena tidak menyentuh 1/4 dari populasi manusia di bumi. Tapi cukup besar untuk ukuran satu komunitas yang memuja sesuatu. Sehingga bisa dibayangkan sosok yang selama ini dibangun secara imaginer dibenak para pembaca dan mempunyai tempat tersendiri didalam emosi mereka menjelma kedalam kotak kaca. Hal ini ditunjang juga dengan pemilihan peran yang tepat dan memukau - bukan omong kosong apabila semua penggila ini menjadi terbius dan menjerit melihat tokoh imaginer mereka ada didepan mata.

Saya buka hampir semua web mengenai ulasan dan berita baik tentang film ini ataupun para pelakon-nya di dunia maya, dan yang ditemukan sangat luar biasa. Antusiasme dari para pecinta twilight novel seolah menemukan gerbang keluar yang nyata untuk mewujudkan mimpi mereka. Sang sutrada dibilang cukup berhasil menuangkan emosi yang tertuang di novel kedalam nuansa layar lebar. Walaupun, kalau kita bandingkan dengan kepuasan membaca novel dan melihat hasilnya di layar lebar, kita akan sedikit kecewa dengan plot-plot yang kelihatan lebih "sederhana" di film dibandingkan dari penggambaran yang lebih kaya emosi dan keindahan nuansa yang tertangkap didalam novel.

Terus terang, kesan pertama saya pada saat melihat film tersebut, jujur saja, meng-kategorikan film ini dalam rate biasa banget. Sebelum menonton film tersebut rekomendasi yang datang ke-telinga cukup membuat tergiur, "ini film bagus, ajak anak-anak nonton bareng deh, seru banget filmnya"... atau "ibu kita nonton twilight yuk, temen2 kakak bilang film nya bagus banget lho"... atau "Duh mbak Tieke, nonton twilight deh baguuuusss banget"... atau "Tiek, ajak anak2 nonton Twilight, seru dan cocok dan bagus untuk anak2, seperti serial Harry Potter lah"... etc.

Alhasil dengan sedikit perjuangan (karena setiap mau nonton ticket selalu sold out), berhasil juga kami berlima nonton di PIM 2 (sebagai catatan: saya belum membaca novel-nya disaat menonton film ini untuk pertama kali). Kami cukup terkejut dengan teriakan histeris para gadis remaja disaat tokoh Edward Cullen muncul. Yang kami paham adalah: "Loh, ini kan yang main jadi Cedric di Harry Potter, udah gede ya sekarang bu..." itu komentar si kakak. Sampai akhir cerita --- saya tetap engga menemukan greget-nya film ini kecuali drama percintaan remaja biasa. Tetapi saya akui all the casts are so beautiful physically. Alhasil, trio kwek-kwek tetap menganggap film-nya seru (aya-aya wae), sementara saya dan ayahnya bilang: "sebenernya film-nya biasa aja sih..."

Penasaran dengan phenomena yang tersebar bagai virus, saya beli novel twilight dan mulai membaca buku 1 - selesai baca, saya tonton lagi film-nya dan baru-lah saya paham plot-plot yang tertuang dan termaksud di dalam film. Dan barulah saya paham mengapa hampir semua wanita yang menonton dan membaca buku Stephanie Meyer ini tergila-gila dengan tokoh-tokoh yang ada.
Harus diakui para pelakon Twilight sepert Robert Pattinson dan Kirsten Stewart tentunya memegang peranan sangat penting dalam menciptakan suasana histeria dari para penggila twilight. Seolah memang mereka diciptakan sebagai Edward dan Bella. Pemeran lain engga kalah penting dalam mendongkrak histeria yang ada. kalau kita bandingkan dengan rasa makanan, maka rasa yang ada adalah: PAS dan NIKMAT sesuai dengan selera kebanyakan orang.

Dan sekarang saya sudah selesai dengan buku ke-4, Breaking Down. Demi mengikuti phenomena yang ada saya pun penasaran dengan kehadiran Twilight saga - New Moon di layar lebar... semoga rasanya tidak sekedar PAS dan NIKMAT saja...