Mengapa mereka bukan merenung tetapi malah bicara
tidak kah cukup satu teguran datang, ataukah memang rasa tak pernah terpuaskan
mengapa ada tarikan emosi yang diciptakan kalau memang harus diredam?
Satu kebenaran diturunkan tetapi kenapa harus ada pertentangan
tidakkah cukup sekali ini saja untuk patuh?
atau sekali lagi kenapa harus diciptakan akal, apabila akal akhirnya membawa ketidakteraturan
Entah apa yang terjadi di akhir cerita, saya hanya ingin ada didalamnya
melihat dengan jelas apa yang sudah tersirat
tapi saya tak ingin terombang ambing didalam gelora ini
saya ingin, itu pasti, dan tolong jangan buat gelanggang ini goyah...
Dan ini yang saya pertanyakan, seandainya mereka merenung
pasti mereka temukan sesuatu...
No comments:
Post a Comment