Wednesday, December 10, 2008

Anak-anakku disaat tidurmu...

Malam ini sengaja ibu tidur dikamar kalian, walaupun hari-hari sebelumnya pun ibu sering tidur dikamar kalian. Tapi khusus malam ini ibu sengaja tidur dikamar kalian sekedar ingin melihat kalian diwaktu tidur di usia kalian yang sekarang ini. Andjani 12 tahun, Icha dan Uya 11 tahun.
Nak, memandang kalian terlelap bergantian selama 15 menit, 30 menit, 1 jam… tak putus senyum dibibir ibu, tak terasa airmata bahagia menetesi pipi…

Nak, adalah anugerah terindah memiliki kalian, adalah kebahagian tulus mendampingi hidup kalian, adalah rasa syukur yang tak putus memandang kalian merayap remaja…

Mengutip khalil gibran yang mengatakan: “…anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu...”
Bukan maksud ibu membenarkan puisi beliau dan bukan pula menyatakan bahwa ibu mengagumi beliau, tidak nak! Kalian pasti tahu siapa yang ibu kagumi dan coba untuk dicontoh.

Tapi melihat kata-kata puitis diatas, apabila ditilik lebih lanjut kalian memang sudah melesat di alam pikiran dan tanggapan kalian sendiri-sendiri tanpa ibu sadari dan dapat ibu redam. Kalian memang berasal dari perpaduan sel ibu dan ayah, campuran darah kami berdua, tapi kalian bukan kami. Rasa-nya ibu ingin selalu meng-klaim bahwa ibu dapat mengatur hidup kalian, ibu dapat membentuk kalian, ibu dapat menguasai kalian... tapi ternyata pilihan hidup yang didasari oleh tanggapan kalian terhadap apa yang selama ini kalian terima di hati kemudian diucapkan dan menjadi tindakan kalian... sungguh diluar jangkauan ibu. Allah menganugerahkan kalian akal yang sangat sempurna, nak. Ibu kagum pada kemampuan kalian dalam mengolah setiap kejadian dan tantangan yang datang dari luar.

Maaf nak, ibu tidak dapat mendampingi hidup kalian setiap waktu. Ingin rasanya ada disisi bathin muda remaja, ingin rasanya hadir disetiap detik sel-sel dalam tubuh kalian berkembang dan tumbuh, tapi alasan klise seperti tuntutan ekonomi membuat kita berjarak berjauhan selama hampir 10 jam dari senin-jumat. Terima kasih kepada tekhnologi, kepada mereka yang dapat mengimplementasikan ilmu Al Quran, sehingga tercipta telepon, sehingga kita tetap dapat bertemu suara dan melepas segenap tanya dan resah yang selalu hadir dalam setiap irama gerak kita.

Nak, masih kental dalam ingatan ibu dimana kalian bertiga sanggup ibu gendong hanya dalam satu pelukan – kalian begitu mungil dan cantik diusia 1 dan 2 tahun – Malam ini, tak cukup sekedar kunyatakan takjub akan perkembangan fisik kalian yang begitu cepat. Kalian hampir sama tinggi dengan Ibu dan Ayah. Bahkan nomor sepatu-mu nak, lebih besar dari nomor sepatu ibu sekarang!


Melihat kalian disaat tidur sekarang ini, sekali lagi airmata menetes dipipi ibu… Maaf-kan bila sekali dua ibu memarahi kalian atas sikap dan tindakan yang kalian ambil. Bukan ibu tidak setuju dengan langkah kalian, hanya perihal waktu yang tidak tepat pada saat kalian mengungkapkannya. Ibu mungkin terlalu letih untuk menyadari bahwa kalian berhak untuk berbuat sesuai dengan yang kalian anggap benar. Tapi nak, adalah hak ibu juga sebagai manusia untuk saling mengingatkan bahwa yang harus kalian anggap benar adalah apa yang disirat dalam Ilmu Allah, yaitu Al Quran. Selesai mengingatkan, adalah hak kalian untuk menanggapi dan memutuskan sikap. Sekali lagi seperti yang ibu ungkap diatas, kalian sungguh dianugerahi akal yang sempurna.

Nak, memandang kalian disaat tidur… melamun ibu jadinya membayangkan seperti apa kalian 3-4 tahun kedepan. Masih sanggupkah ibu mendampingi langkah kalian yang semakin panjang dan semakin tegas…… masih inginkah kalian berceloteh ringan tentang makna hidup dan cerita sehari-hari dari kehidupan indah kalian… ketakutan mulai merayap bahwa kalian akan terus berlari…

Nak, dalam tidur-mu yang nyaman, ada satu keinginan dan pinta ibu, ijinkan ibu untuk terus menjadi teman diskusi kalian, ijinkan ibu untuk terus menjadi sahabat kalian.

Oh ya, satu hal lucu yang mungkin bisa dikenang, diusia ini kalian bertiga sangat takut pada Cikcak! bahkan kalian bisa melompat sambil berteriak kencang keluar dari kamar mandi, apabila melihat anak Cikcak merayap di dinding kamar mandi... seolah Cikcak adalah beruang besar menakutkan! Astaga anak-ku... :)

Selamat malam nak, bangunlah esok pagi dengan senyum pasti menyapa dunia.


No comments: